Tahun Baru 2020

Uniknya Ritual Dayak Kalimantan Tengah Menyambut Tahun Baru 2020, untuk Menjaga Kota Palangkaraya

Uniknya Ritual Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah Menyambut Tahun Baru 2020, untuk Menjaga Kota Palangkaraya

Uniknya Ritual Dayak Kalimantan Tengah Menyambut Tahun Baru 2020, untuk Menjaga Kota Palangkaraya
istimewa
Sejumlah basir atau rohaniawan dayak kaharingan, saat menggelar ritual, mamapas lewu maarak sahur palus manggantang sahur lewu. 

Penulis wartawan Banjarmasinpost.co.id Fatturahman

BANJARMASINPOSTTRAVEL - Basir (rohaniawan Dayak, Red) menabuh alat musik Dayak Katambung sembari mengalunkan doa dan pujian untuk leluhur.

Sementara di bagian depannya ada sejumlah sesajen untuk sesembahan dalam ritual Mamapas Lewu Maarak Sahur Palus Manggantang Sahur Lewu.

Sejumlah sesajen berupa, dupa yang dibakar, telur, ketupat, lemang, kue cucur putih, cucur kuning, cucur coklat, beras, ayam bulu putih, ayam bulu merah, ayam tiga warna, minuman anding (tuak), dan kepala kerbau, diletakkan di suatu wadah yang terbuat dari bambu kuning.

Pergantian Tahun 2019 ke 2020, kegiatan ini kembali digelar, kali ini dilaksanakan di Huma Betang Hapakat, di Jalan RTA Milono Palangkaraya, Kalimantan Tengah diprakarsai oleh Dinas Pariwisata Pemko Palangkaraya.

Masih Unggulkan 3F, Kota Banjarbaru Semarak dengan Berbagai Event ini dari April hingga Desember

Fasilitas Pantai Angsana Manjakan Wisatawan Lokal dan Luar Kabupaten

Kegiatan itu dihadiri banyak warga, pejabat, termasuk rohaniawan kaharingan.

Ritual, Ma'mapas lewu ma'arak sahur palus manggantung sahur lewu, dipercaya warga penganut agama Hindu Kaharingan, sebagai sarana membersihkan Kota Palangkaraya dari perbuatan jahat yang dilakukan manusia maupun roh-roh jahat terhadap, kehidupan masyarakat Kota Cantik ini, sehingga selalu dilakukan setiap pergantian tahun dan event lainnya.

Maksud, ma'arak sahur sebagai ungkapan syukur kepada Yang Maha Kuasa dan manggantung sahur lewu perwujudan, atau permohonan kepada yang maha kuasa agar Kota Palangkaraya dijaga dan dilindungi dari hal-hal yang tidak baik.

Pemimpin ritual Basir Bokot, mengatakan, ritual yang dilakukan, untuk menjadikan alam sebagai tempat hidup manusia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tujuannya, sebagai tempat yang hidup makmur dan bahagia dan kota aman dan terhindar dari bala bencana."Ini bentuk rasa sukur kami untuk yang maha kuasa," ujarnya.

Dalam ritual tersebut, juga ditanamkan kepala kerbau dan sapi, sebagai wujud perjanjian bahwa alam tidak dirusak dengan sembarangan tetapi digunakan untuk hal yang berguna.

"Rangakaian ritual dilaksanakan membuat tata batas antara manusia dan alam agar terjaga keseimbangan dan keselarasan," ujarnya.

(banjarmasinposttravel.tribunnews.com/faturahman)

Ikuti kami di
Editor: Royan Naimi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved