Makanan Tradisional Masyarakat Loksado

Membuat Nasi Humbal Bapalan Bersama Anak-anak Loksado, Makanan Tradisional yang Disukai Wisatawan

Membuat Nasi Humbal Bapalan Bersama Anak-anak Loksado, Makanan Tradisional yang Disukai Wisatawan

Editor: Royan Naimi
banjarmasinposttravel.com/hanani
ANak-anak Loksado membuat nasi humbal dengan membakar bambu berisi beras dan lauk 

“Itu kalau mau menyantap secara alami, tanpa piring. BIasanya lebih nikmat tanpa piring. Bahkan, mengambil lauknya pun pakai daun,” kata Abdurrahim Suryanegara, Ketua Umum Komunitas Muda Sadar Wisata Pesona Meratus yang mendampingi anak-anak didiknya membuat nasi humbal bersama, di Desa Haratai.

Seperti dijanjikan sebelumnya, mencicipi kuliner ini ada sensasi tersendiri.

Selain menikmati wanginya beras gunung yang dimasak daun lirik, juga lezatnya lauk bapalan, yang dimasak dengan resep sederhana masyarakat suku Dayak.

Kuliner khas ini ternyata punya sejarah sendiri.

Tercipta oleh para pemburu binatang, seperti menjangan di hutan.

Menurut warga Desa Haratai, Kecamatan Loksado Hulu Sungai Selatan, Ramsii, menu tersebut dibuat oleh pemburu binatang yang bermalam dihutan.

Saat berburu berhari-hari di hutan, mereka hanya membawa bekal beras, serta bumbu masak yang disebutkan tadi.

Di tengan hutan, pemburu memasak beras dengan batang bambu yang diilih jenis bambu tipis.

Sedangkan lauknya, mencari ikan di sungai dan dimasak dengan bumbu yang dibawa dari rumah tadi.

“Biasanya jenis ikan patin, atau ikan lampam, haruan dan jenis ikan sungai lainnya,” kata Ramsi.

Tradisi memasak cara ini, masih dilestarikan para pemburu dan penjual bambu, yang beberapa kali dalam seminggu memilirkan rakit bambu ke Palantingan Kandangan, untuk dijual.

Dijelaskan Ramsi, saat musim kemarau, para pedagang bambu yang memilirkan rakitnya sampai ke Kandangan, biasanya terpaksa bermalam di perjalanan, karena butuh waktu selama dua hari baru sampai ke tujuan.

“Sampai sekarang, tradisi mahumbal tetap dilestarikan, pemburu dan pedagang bambu,”tuturnya.

Memasak dengan cara tadisional mahumbal, benar-benar memasak dengan memanfaatkan apa yang ada di alam.

Adapun kelebihan nasi humbal, tahan dua hari tidak basi meski dimasak secara alami.

Meski dari sejarahnya nasi humbal tercipta dari tradisi berburu dan berakit bambu, namun setelah dipromosikan sebagai kuliner khas, nasi humbal kian digemari.

Bahkan, naik kelas, karena sering disajikan Pemkab Hulu Sungai Selatan saat menjamu tamu daerah.

Nasi humbal juga sering disajikan pengelola-pengelola penginapan di sekitar objek wisata alam Loksado, untuk tamu-tamunya.

Baik wisatwan lokal mauapun wisatawan asing mancanegara. Wisatawan asing pun mendapat pengalaman baru di dunia kuliner, yaitu mencicipi masakan yang dimasak secara alami dengan bahan alami pula.

Jika berkunjung ke Loksado, sekitar 175 kilometer dari Kota Banjarmasin, atau sekitar 50 kilometer dari Kandangan, kota Kabupaten, tak lengkap jika tak mencoba nasi humbal lauk bapalan ini.

Walaupun menu ini tak tersedia di warung-warung, namun bisa dipesan kepada masyarakat setempat.

Bisa pula melalui Komunitas Muda Sadar Wisata Pesona Meratus, dengan menghubungiKetuanya, Abdurrahim Suryanegara.

Sebab, mereka adalah komunitas yang bekerjasama dengan pengelola sejumlah penginapan, atau panitia-panitia sejumlah event di Loksado.

Namun, jika ingin melihat langsung proses membuatnya, hingga cara memasak dan menyantapnya di tengah alam, bisa bekerjasama dengan masyarakat warga setempat, atau para pemuda setempat. Soal lauk, juga bisa membawa sendiri atau membeli sendiri di pasar Kandangan.

(banjarmasinposttravel.tribunnews.com/hanani)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved