Makanan Tradisional Masyarakat Loksado

Membuat Nasi Humbal Bapalan Bersama Anak-anak Loksado, Makanan Tradisional yang Disukai Wisatawan

Membuat Nasi Humbal Bapalan Bersama Anak-anak Loksado, Makanan Tradisional yang Disukai Wisatawan

Editor: Royan Naimi
banjarmasinposttravel.com/hanani
ANak-anak Loksado membuat nasi humbal dengan membakar bambu berisi beras dan lauk 

BANJARMASINPOSTTRAVEL.COM, KANDANGAN - Jika berkunjung ke Loksado, wajib mencoba kuliner ini.

Nasi Humbal dan Lauk Bapalan.

Apa itu? Tentu saja ini adalah kuliner tradisional khas masyarakat Dayak Loksado, di desa-desa di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan

Keistimewaan nasi Humbal dan Lauk Bapalan ini adalah pada cara memasak dan peralatan memasak yang digunakan.

Nasi dan lauk tersebut 100 persen dimasak secara alami, menggunakan ruas batang bambu khusus, yaitu bambu yang jenisnya lebih tipis.

Dimasak di bawah api dari kayu bakar layaknya lamang.

Namun nasi Humbal tidak menggunakan beras ketan.

Nasi Humbal dari Loksado HSS, Dimasak Pakai Bambu 100 Persen Alami, ini yang Harus Disiapkan

Mencari Daun Lirik Harus Masuk Hutan, Pakai Jenis Daun Lain Bikin Nasi Humbal Bisa Gagal

Disantap dengan Lauk Bapalan, Wanginya Nasi Humbal Semakin Menggugah Selera

Sejarah Nasi Humbal, Sering Dimasak oleh Para Pemburu yang Bermalam di Hutan

Bertahan Dua Hari Tidak Basi, Kini Nasi Humbal Khas Loksado Menu Favorit Wisatawan

Tertarik Ingin Mencicipi Nasi Humbal Khas Loksado, Bisa Request ke Komunitas ini

Tapi menggunakan beras gunung yang aromanya wangi, atau disebut beras buyung.

Cara membuatnya pun sangat tradisional.

Banjarmasinpost.co.id berkesempatan ikut membuat nasi humbal Sabtu malam lalu, bersama anak-anak Loksado.

Mereka memulai dengan mencari batang bambu di Desa Haratai.

Selanjutnya, mencari daun lirik yaitu daun khusus untuk membungkus beras sebelum dimasukkan dalam batang bambu.

"Sudah, itu saja peralatan yang diperlukan. Jadi 100 persen tanpa peralatan modern,"ungkap Wirda, siswa SMPN 1 Loksado yang mengaku sering membuat nasi humbal untuk memenuhi pesanan wisatawan.

Nasi humbal, biasanya disajikan bersama lauk bapalan.

Adapun lauknya, bisa ayam, ikan ataupun udang. Namun lebih sering dengan ayam dan ikan.

Cara memasak lauknya, dikasih bumbu kemiri, bawang merah plus bawang putih, kunyit, sedikit kencur, garam, gula yang dihaluskan.

Selanjutnya, dimasak dalam bambu atau disebut bumbung, setelah ditambahkan sedikit air tanpa diberi lapisan daun.

Selanjutnya, dibakar di perapian, seperti halnya nasi humbal.
Namun, untuk nasi humbal, sebelumnya beras dibungkus dengan daun lirik.

Untuk mendapatkan daun tersebut, anak-anak Loksado, terdiri Mita, Wirda, Ela serta dua teman laki-lakinya Sudi dan Evan harus masuk hutan.

“Soalnya kalau menggunakan daun pisang, atau jenis daun lain, nasi humbal bisa gagal dimasak dengan baik. Karena kalau daun pisang bisa pecah kalau dilipat. Sedangkan daun lirik, lebih kuat, dan aroma nasinya juga lebih wangi setelah matang,” ungkap Mita, yang bertugas memotong batang bambu saat membuat nasi humbal.

Dalam satu ruas bambu, bisa memasak sampai 15 bungkus nasi dengan daun lirik.

Proses memasak nasi humbal maupun lauk bapalan adalah antara satu setengah jam, sampai dua jam.

Mencicipi nasi humbal lauk bapalan, pengalaman baru bagi reporter banjarmasinpost.co.id.

Kuliner tradisional ini sungguh istimewa.

Karena semua berbahan alami dan dimasak secara alami tanpa peralatan modern.

Setelah nasi humbal dan lauk bapalannya matang, batang bambu didiamkan sampai setengah dingin, lalu di belah.

Demikian pula lauknya.

Saat membuat nasi humbal dan lauk bapalan bersama anak-anak Loksado, kami menggunakan lauk ayam kampung.

Setelah bilah bambu dibuka, bungkusan nasi humbal dikeluarkan satu persatu.

Sedangkan lauknya cukup setelah bambu dibelah, lauk tetap diletakkan dalam bambu.

“Itu kalau mau menyantap secara alami, tanpa piring. BIasanya lebih nikmat tanpa piring. Bahkan, mengambil lauknya pun pakai daun,” kata Abdurrahim Suryanegara, Ketua Umum Komunitas Muda Sadar Wisata Pesona Meratus yang mendampingi anak-anak didiknya membuat nasi humbal bersama, di Desa Haratai.

Seperti dijanjikan sebelumnya, mencicipi kuliner ini ada sensasi tersendiri.

Selain menikmati wanginya beras gunung yang dimasak daun lirik, juga lezatnya lauk bapalan, yang dimasak dengan resep sederhana masyarakat suku Dayak.

Kuliner khas ini ternyata punya sejarah sendiri.

Tercipta oleh para pemburu binatang, seperti menjangan di hutan.

Menurut warga Desa Haratai, Kecamatan Loksado Hulu Sungai Selatan, Ramsii, menu tersebut dibuat oleh pemburu binatang yang bermalam dihutan.

Saat berburu berhari-hari di hutan, mereka hanya membawa bekal beras, serta bumbu masak yang disebutkan tadi.

Di tengan hutan, pemburu memasak beras dengan batang bambu yang diilih jenis bambu tipis.

Sedangkan lauknya, mencari ikan di sungai dan dimasak dengan bumbu yang dibawa dari rumah tadi.

“Biasanya jenis ikan patin, atau ikan lampam, haruan dan jenis ikan sungai lainnya,” kata Ramsi.

Tradisi memasak cara ini, masih dilestarikan para pemburu dan penjual bambu, yang beberapa kali dalam seminggu memilirkan rakit bambu ke Palantingan Kandangan, untuk dijual.

Dijelaskan Ramsi, saat musim kemarau, para pedagang bambu yang memilirkan rakitnya sampai ke Kandangan, biasanya terpaksa bermalam di perjalanan, karena butuh waktu selama dua hari baru sampai ke tujuan.

“Sampai sekarang, tradisi mahumbal tetap dilestarikan, pemburu dan pedagang bambu,”tuturnya.

Memasak dengan cara tadisional mahumbal, benar-benar memasak dengan memanfaatkan apa yang ada di alam.

Adapun kelebihan nasi humbal, tahan dua hari tidak basi meski dimasak secara alami.

Meski dari sejarahnya nasi humbal tercipta dari tradisi berburu dan berakit bambu, namun setelah dipromosikan sebagai kuliner khas, nasi humbal kian digemari.

Bahkan, naik kelas, karena sering disajikan Pemkab Hulu Sungai Selatan saat menjamu tamu daerah.

Nasi humbal juga sering disajikan pengelola-pengelola penginapan di sekitar objek wisata alam Loksado, untuk tamu-tamunya.

Baik wisatwan lokal mauapun wisatawan asing mancanegara. Wisatawan asing pun mendapat pengalaman baru di dunia kuliner, yaitu mencicipi masakan yang dimasak secara alami dengan bahan alami pula.

Jika berkunjung ke Loksado, sekitar 175 kilometer dari Kota Banjarmasin, atau sekitar 50 kilometer dari Kandangan, kota Kabupaten, tak lengkap jika tak mencoba nasi humbal lauk bapalan ini.

Walaupun menu ini tak tersedia di warung-warung, namun bisa dipesan kepada masyarakat setempat.

Bisa pula melalui Komunitas Muda Sadar Wisata Pesona Meratus, dengan menghubungiKetuanya, Abdurrahim Suryanegara.

Sebab, mereka adalah komunitas yang bekerjasama dengan pengelola sejumlah penginapan, atau panitia-panitia sejumlah event di Loksado.

Namun, jika ingin melihat langsung proses membuatnya, hingga cara memasak dan menyantapnya di tengah alam, bisa bekerjasama dengan masyarakat warga setempat, atau para pemuda setempat. Soal lauk, juga bisa membawa sendiri atau membeli sendiri di pasar Kandangan.

(banjarmasinposttravel.tribunnews.com/hanani)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved