Pengrajin Gerabah Desa Bayanan

Banyak Pengrajin Berhenti Produksi, karena Tak Sabar Menanti Pembeli

Banyak pengrajin yang berhenti berproduksi, karena menjadi pengrajin gerabah harus sabar menanti pembeli

Banyak Pengrajin Berhenti Produksi, karena Tak Sabar Menanti Pembeli
banjarmasinposttravel.com/hanani
Hasil akhir produk gerabah yang siap dipasarkan ke daera-daerah di Kalsel, Kateng, Katim, hingga Bali. 

BANJARMASINPOSTTRAVEL.COM, KANDANGAN- Membuat kerajinan gerabah, ternyata memerlukan proses cukup panjang.

Tingkat kesulitan berbeda sesuai karakter yang dibentuk.

Mulai dari mencari tanah liat yang diambil dari dasar perairan rawa di Daha Selatan.

Menurut para pengrajin jaraknya sekitar 15 kilometer naik jukung (perahu).

Selanjutnya tanah liat dicampur pasir, lalu diaduk dan dinjak-injak pakai kaki, agar pasir dan tanah tadi menyatu.

Sasar Menengah ke Atas, Pengrajin Gerabah Desa Bayanan HSS Berinovasi dengan Produk ini

Pengrajin Gerabah Desa Bayanan HSS Sering Menerima Pesanan dari Luar Derah

Konversi Minyak Tanah Sempat Membuat Pengrajin Gerabah Desa Bayanan HSS Terseok

Ramli Bisa Hasilkan Puluhan Buah Gerabah Kecil dalam Satu Hari

Selanjutnya, dibentuk kepalan-kepalan, lalu dibentuk menjadi aneka macam produk.

Selesai dibentuk, lalu dijemur, sampai tanah liat berubah warna menjadi putih.

Kemudian dibakar dalam tungku besar dengan bahan bakar kayu, selama empat jam.

Setelah proses pendinginan, baru diberi cat.

“Jadi prosesnya cukup lama sampai menjadi duit,”ucap Mawari, pengrajin Gerabah di Desa Bayanan, Daha Selatan, HSS seraya terkekeh.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Royan Naimi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved