Alunalun Ratu Zalecha Martapura

Alunalun Ratu Zalecha Martapura Menyimpan Sejarah Agung dan Heroik Masa Silam

Ada nilai histori atau sejarah agung di balik penamaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ratu Zalecha (Raza)

Alunalun Ratu Zalecha Martapura Menyimpan Sejarah Agung dan Heroik Masa Silam
banjarmasinposttravel.com/roy
Inilah RTH Ratu Zalecha, Martapura, yang menyajikan panorama yang cukup eksotis. Tempat ini kerap menjadi beragam aktivitas warga Kota Martapura dari beragam strata usia. 

BANJARMASINPOSTTRAVEL.COM, MARTAPURA - Penamaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ratu Zalecha (Raza) tak sekadar penyematan nama biasa. Namun ada nilai histori atau sejarah agung di balik itu.

Penyematan nama Ratu Zalecha pada RTH yang terletak di tepi jalan arteri nasional (A Yani), Martapura, Kabupaten Banjar, tersebut sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap Kesultanan Kerajaan Banjar, karena Ratu Zalecha adalah bagian dari pembesar Kerajaan Banjar.

Meski nama Ratu Zalecha cukup familiar di telinga publik di Kalimantan Selatan (Kalsel), namun hanya sebagian saja yang mengetahui sejarah dan kiprah heroik pembesar Kerajaan Banjar tersebut pada masa silam.

Ratu Zaleha atau Djaleha lahir di Muara Lawung pada 1880 dan wafat di Banjarmasin pada 24 September 1953. Ia adalah puteri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari yang gigih berjuang mengusir Belanda dalam Perang Banjar.

Ia melanjutkan perjuangan Pangeran Antasari. Ratu Zaleha berjuang bersama wanita-wanita suku Dayak yang sudah memeluk Islam seperti Bulan Jihad atau Wulan Djihad Illen Masidah dan lain-lain. Ratu Zaleha (nama lahir Gusti Zaleha) merupakan tokoh emansipasi wanita di Kalimantan.

Alunalun Ratu Zalecha Martapura, Letaknya Strategis dan Mudah Dijangkau

Alunalun Ratu Zalecha Martapura, Pembersih Udara dan Penyeimbang Ekosistem

Alunalun Ratu Zalecha Martapura Dilengkapi Area Parkir yang Luas dan Mulus

Gugurnya Sultan Muhammad Seman dan jatuhnya benteng pertahanan Manawing, tertangkapnya Panglima Batur pada tahun 1905, maka Perang Banjar yang dimulai dengan penyerangan terhadap benteng dan pertambangan batu bara Oranje Nassau di Pengaron, Banjar tahun 1859, dinyatakan berakhir pada tahun 1905.

Pengasingan
Tokoh-tokoh pejuang yang tetap bertahan tidak mau menyerah akhirnya terpaksa menyerah, mereka dibuang keluar dari bumi bekas Kesultanan Banjar sebagai tawanan perang hidup dalam pengasingan sampai hayat mereka berakhir.

Salah satu di antaranya adalah Gusti Muhammad Arsyad, menantu Sultan Muhammad Seman. Gusti Muhammad Arsyad dibuang ke Buitenzorg (sekarang Kota Bogor) pada tanggal 1 Agustus 1904.

Gusti Muhammad Arsyad dan isterinya Ratu Zaleha, puteri dari Sultan Muhammad Seman berjuang bersama ayahnya dengan penuh keberanian. Setelah benteng Manawing jatuh ia bersembunyi ke Lahei dan selanjutnya ke Mia di tepi Sungai Teweh yang dianggap mereka aman dari pengejaran Belanda. Suaminya Gusti Muhammad Arsyad setahun sebelum benteng Manawing jatuh telah menyerah kepada Belanda karena pengepungan yang menyebabkan ia tidak dapat melarikan diri lagi. Karena selalu dikejar-kejar oleh serdadu Belanda.

Gusti Zaleha atau Ratu Zaleha merasa sangat letih disamping fisiknya juga tidak mengizinkannya lagi, akhirnya dia pada awal tahun 1906 menyerahkan diri kepada Belanda. Atas permintaannya Ratu Zaleha mengikuti suaminya dalam pengasingan di Bogor (di kawasan Keramat Empang Bogor) untuk berkumpul dengan suaminya Gusti Muhammad Arsyad.

Tersedia Fasilitas ini, Pengunjung Alunalun Ratu Zalecha Martapura Bisa Sholat Secara Nyaman

Alunalun Ratu Zalecha Martapura, Kerap Jadi Ajang Pameran Pembangunan dan Kegiatan ini

Alunalun Ratu Zalecha Martapura Tempat Jogging hingga Ajang Berjemur Lansia

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Royan Naimi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved