Aruh Adat Dayak Pegunungan Meratus

Aruh Adat Suku Dayak Desa Labuhan HST, Bunga Tahun yang Wajib Ada

Desa Labuhan berjarak 23 kilometer dari pusat Kota Barabai atau setara 40 menit berkendara.

banjarmasinposttravel.com/eka pertiwi
Proses pembakaran lamang diperlukan waktu hingga empat jam 

BANJARMASINPOSTTRAVEL.COM, BARABAI – Musim panen padi sudah selesai. Bagi warga Dayak, pantang memakai apalagi menjual hasil panen sebelum pelaksanaan aruh adat.

Itulah budaya dan kepercayaan yang dijunjung oleh Warga Dayak di Desa Labuhan Kecamatan Batang Alai Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan.

Desa Labuhan berjarak 23 kilometer dari pusat Kota Barabai atau setara 40 menit berkendara.

Meski di tengah pandemic corona virus disease (covid-19), warga Dayak mengupayakan melaksanakan aruh adat sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.

Kepala Lembaga Adat Dayak Desa Labuhan, Suan, mengatakan pelaksanaan aruh adat kali ini terbatas. Mengingat adanya pandemi covid-19. Suku Dayak Desa Labuhan yang biasanya melaksanakan aruh adat besar, kali ini aruh adat dilakukan secara sederhana.

Bagi Dayak Desa Labuhan, Bunga Tahunan Pegunungan Meratus ini Wajib Ada dalam Aruh Adat

Semua Warga Dayak Desa Labuhan HST Gotong Royong Mempersiapkan Aruh Adat dengan Berbagi Tugas

Warga Dayak Desa Labuhan HST Boleh Menyantap Makanan yang Disediakan Setelah Pelaksanaan Aruh Adat

Menggunakan Daun ini, Lamang Olahan Warga Dayak Desa Labuhan HST Berbeda dari yang Lain

Dibeberkannya, aruh adat kali ini juga berbeda. Biasanya usai panen selesai pihaknya melakukan aruh adat sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih. Namun, pada aruh adat kali ini juga diselipkan tolak bala.

Tolak bala ini dilakukan untuk menghalau dan mendoakan agar covid-19 pergi dari Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kalimantan Selatan.

Aruh pun dibuat sederhana. Jika biasanya, aruh adat mengundang seluruh suku Dayak yang ada di Batang Alai, kini pelaksanaan aruh hanya dilakukan sebatas lingkungan saja.

Bahkan, pelaksanaan aruh pun harus berizin kepada aparat. Ia menyadari saat pandemi, dilarang adanya perkumpulan. Makanya, pihaknya melaksanakan aruh tak besar seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Biasanya kami membuat lamang (makanan terbuat dari ketan yang dimasak menggunakan bambu), mencapai 400 hingga 500 bumbung (batang bambu). Kali ini hanya 150 bumbung. Beras ketan yang dimasak untuk lamang biasanya mencapai 20 balek. Kini hanya empat balek saja,” katanya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Royan Naimi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved