Wisata Religi di Banjarmasin

Bangunan Masjid Sultan Suriansyah Mengadaptasi Arsitektur Masjid Agung Demak

Arsitektur mesjid Agung Demak sendiri dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu.

banjarmasinposttravel.com/syaiful anwar
Masjid Sultan Suriansyah 

BANJARMASINPOSTTRAVEL.COM, BANJARMASIN - Pola ruang pada Masjid Sultan Suriansyah merupakan adaptasi pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan.

Arsitektur mesjid Agung Demak sendiri dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu.

Identifikasi pengaruh arsitektur tersebut tampil pada tiga aspek pokok dari arsitektur Jawa Hindu yang dipenuhi oleh masjid tersebut.

Tiga aspek tersebut: atap meru, ruang keramat (cella) dan tiang guru yang melingkupi ruang cella.

Meru merupakan ciri khas atap bangunan suci di Jawa dan Bali.

Ziarah ke Makam Sultan Suriansyah, Jangan Lupa Sempatkan Salat di Masjid Tertua di Kalsel ini

Menuju Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin Lebih Seru Lewat Jalur Sungai

Bangunan Masjid Sultan Suriansyah Berbentuk Rumah Panggung Khas Banjar

Bentuk atap yang bertingkat dan mengecil ke atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi kekuasaan ke atas.

Bangunan yang dianggap paling suci dan dan penting memiliki tingkat atap paling banyak dan paling tinggi.

Ciri atap meru tampak pada Masjid Sultan Suriansyah yang memiliki atap bertingkat sebagai bangunan terpenting di daerah tersebut.

Bentuk atap yang besar dan dominan, memberikan kesan ruang di bawahnya merupakan ruang suci (keramat) yang biasa disebut cella.

Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella (ruang keramat).

Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.

(banjarmasinposttravel.tribunnews.com/syaiful anwar)

Ikuti kami di
Editor: Royan Naimi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved